Sunday, December 23, 2012

Pemimpin Yang Baik


"Pemimpin sejati melayani. Melayani orang-orang. Melayani minat terbaikmereka. Dalam memimpin, mereka tidak selalu bertindak populer, dan tidak juga selalu mengesankan. Tetapi pemimpin sejati selalu dimotivasi oleh kepedulian kasih dibandingkan hasrat kejayaan pribadi dan mereka pun bersedia membayar harganya" -
* Eugene B. Habecker *



Memimpin yang efektif bukanlah mengenai bagaimana memerintah anak buah. Semua orang pun bisa melakukan hal itu jika diberi kekuasaan. Memimpin yang efektif adalah sebuah  seni melayani. Pemimpin yang memiliki banyak pengikut adalah pemimpin yang melayani. Menurut pakar kepemimpinan John C. Maxwell, untuk menjadi orang besar kita harus mau menjadi yang paling kecil dan juga pelayan bagi orang lain.

Layanilah orang lain dengan melakukan apa yang kita minta lakukan pada orang lain. Bersedia menyingsingkan lengan baju kita untuk bekerja. Otomatis Anda akan menjadi contoh bagi karyawan atau pengikut Anda. 

Dengarkan aspirasi karyawan Anda dan berempatilah pada mereka. Empati Anda akan menimbulkan rasa hormat mereka terhadap Anda, serta memberikan pertumbuhan pada diri Anda dan pengikut Anda. Jadilah mentor mereka. Menjadi mentor adalah bagaimana kita mengubah seseorang menjadi seseorang yang lebih baik lagi. 

Fokuslah juga pada solusi permasalahan, bukan pada kesalahan karyawan Anda. Formulasikan rencana tindakan Anda untuk mengatasinya.  Jika Anda ingin menjadi pemimpin pada tingkat tertinggi, bersedialah melayani orang yang paling rendah



Source : Anne Ahira
  

Monday, June 18, 2012

Apa Yang Kau Cari Dalam Hidup ??


Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. 
Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. 
Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.
Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. 
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. 
Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. 
Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. 
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. 
Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. 
Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. 
Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" 
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu" Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.
Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. 
Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yang istimewa untuk menjalani ujian di dunia. 
Sehebat apapun ujian yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya...ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan.... bangkitlah! 
Karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.





Source : Kisah Inspiratif by Nyoto Wibowo

Tolong Damaikan Mereka....

 

 
Sore itu...
Terdengar suara azan maghrib, Ina berlari cepat masuk ke kamar. Di dalam kamar yang gelap itu, ia meringkuk di sudut ranjang. Menutup kepalanya dengan bantal dengan sekuat tenaga. Berharap dunia menjadi sunyi senyap. Namun sayup-sayup azan maghrib masih juga terdengar, menembus bantal yang tipis.

Tak lama kemudian, suara-suara nyaring yang bersahutan terdengar. Tangan kecil Ina menekan bantal semakin kuat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Suhu tubuhnya terasa naik. Suara-suara itu tak berhenti malah semakin keras. Beberapa kata makian tertangkap oleh telinga Ina.

Entah berapa lamanya sampai suara-suara itu pun menghilang diakhiri dengan suara deruman motor menjauh. Ayahnya telah pergi. Kemudian disusul suara bantingan pintu. Barulah Ina melepaskan bantal di kepalanya. Rambutnya kuyup, lengket pada kulit wajahnya. Ia membuka matanya yang kecil dan basah. Lekas dihapusnya airmatanya sebelum ia bangkit, meninggalkan kamar itu. Sudah aman. Harus cepat-cepat keluar sebelum ibunya mengomelinya.

Malam itu...
Ina terbangun dari mimpinya. Sejenak ia terdiam menatap gelap, tak sadar sedang ada di mana. Semenit kemudian kesadarannya pulih. Ia tengah di kamarnya, menjalani tidur malam. Lalu mengapa dia terbangun?

Dari balik tembok terdengar suara orang-orang bertengkar. Suara-suara yang dipenuhi amarah dan makian. Kembali jantung Ina berdetak cepat. Ayahnya pulang. Ia melirik jam di samping ranjangnya, pukul setengah dua belas. Pantas saja! Ina menggoyang-goyangkan tubuh sang Kakak yang tertidur pulas di sampingnya. Tapi kakaknya tak bangun juga. Tinggallah ia sendirian dengan tubuh gemetar. Baru saja Ina berniat kembali menutup kepalanya dengan bantal ketika pintu kamarnya terbuka. Dan sosok Ibu muncul di sana. Ina cepat-cepat menutup matanya, pura-pura tidur kembali.

Ibu memanggilnya berulang-ulang. Ina tetap diam. Panggilan Ibu semakin keras. Separuh takut separuh tak tega, Ina kecil membuka matanya.

"Panggil ayahmu tidur di kamar."

Ina bangkit, berusaha tidak menatap wajah ibunya yang tampak begitu marah. Ia melewati ibunya dan pergi ke dapur, menebak ayahnya pasti ada di sana. Ini bukan kejadian pertama, juga tidak akan menjadi kejadian terakhir. Dan di akhir pertengkaran yang tidak berujung ini, ia selalu harus menjadi pembawa pesan damai. Meski damai itu tak pernah benar-benar terwujud.

Ina menyentuh pelan tangan ayahnya. Rasa takut selalu menghantuinya bila berhadapan pada sosok yang tak pernah ramah itu. "Yah, tidur di kamar."

Lelaki itu tidak menggubrisnya. Ia duduk di kursi dengan kepala tertunduk dan wajah tersembunyi di balik tangannya.

"Yah... Tidur di kamar," ulang Ina kembali seperti menyanyikan lagu yang sudah sangat dihapalnya. Bagaimana tidak, kalimat itu, kata-kata itu setiap malam harus diucapkannya.

Entah karena kasihan padanya atau karena memang sudah tahu mesti menjalani akhir yang seperti ini, ayahnya bangkit, berjalan masuk ke kamar. Begitupun Ina, kembali ke kamarnya. Begitupun ibunya tak lama kemudian menyusul ke kamar, tidur dalam senyap dengan sang Ayah.

Lama Ina tak bisa tidur, berbaring di kamarnya yang sempit dan gelap itu. Suara-suara Ayah ibunya terdengar kembali, terngiang-ngiang begitu jelas di telinganya, tak mau pergi. Dan teror ketakutan kembali memeluknya. Ia tak mengerti mengapa Ibu setiap sore dan malam harus siap dengan begitu banyak pertanyaan pada Ayah.
Ia tak mengerti mengapa Ayah tak pernah mau pulang lebih awal agar rumah ini bisa damai. Dan ia tak mengerti mengapa dua orang yang katanya saling mengasihi bisa saling memaki dan membenci.

Jiwa kecilnya memberontak, menangis, tak tahu harus berbuat apa. Tak tahu bagaimana mengusir ketakutan yang selalu mengikuti langkahnya setiap hari. Membuatnya membenci sore dan malam hari.
Sore hari ketika ayahnya mesti berangkat kerja ke sebuah restoran, dan malam hari ketika ayahnya terlambat pulang. Karena sore dan malam hari adalah saat-saat yang begitu mencekam jiwanya.

Tak pernah dilihatnya Ayah dan ibunya saling memeluk atau bersentuhan. Ia bahkan tak pernah disentuh mereka. Hanya ada kemarahan dan kebencian di wajah mereka berdua. Dan kebencian itu mulai terasa membakar rumah ini. Membuat Ina kecil panik, ingin bisa bersembunyi di tempat yang tak terjangkau. Seandainya saja mereka punya lorong rahasia di bawah tanah...

Ia takut. Takut bila ayahnya menjadi kalap dan memukul ibunya. Ia takut mendengar jeritan kemarahan Ibu yang menggetarkan jiwanya. Ia ingin berlari, tapi ke mana? Ia ingin meminta mereka untuk berhenti, tapi bagaimana? Mereka tak pernah mempedulikannya. Mereka tak menggubrisnya. Mereka hanya sibuk dengan emosi masing-masing. Apakah memang seperti itu menjadi orang dewasa?

Sering Ina berkhayal seandainya Ayah ibunya saling bergandengan tangan dan menyapanya dengan lembut. Dan mereka berempat menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Seperti halnya ia sering melihat Ayah dan Ibu Cece, teman baiknya, yang selalu akur di manapun mereka berada.

Ina kecil menangis tersedu-sedu di balik bantal yang menutup kepalanya. Tak sadar terucap doa dari bibir mungilnya. Meminta pada Tuhan untuk mendamaikan kedua orangtuanya. Meminta Tuhan untuk menghilangkan sore dan malam hari dari hidupnya. Ia masih terus menangis hingga ia jatuh tertidur. Sejenak terlepas dari semua beban jiwa dan deritanya. Namun entah apa yang akan menantinya esok hari.


Akankah ada episode yang sama, juga ketakutan yang sama menunggunya kembali ???

Note : Selalu ada anak yang jadi korban keegoisan orangtua dan orang dewasa lainnya...damai...damai...n damai lah kawan. Peace is great...!!





Source : Kisah Inspiratif by Angel Li

Laki laki Sejati





Aku bertanya pada Bunda, bagaimana memilih lelaki sejati?


Bunda menjawab, Nak…
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari 
kasih sayangnya pada orang disekitarnya….


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari 
kelembutannya mengatakan kebenaran…..
 

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari  
sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi  
bagaimana dia dihormati didalam rumah…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari  
sikap bijaknya memahami persoalan…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari 
hati yang ada dibalik itu…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi  
komitmennya terhadap wanita yang dicintainya…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari 
tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan…


Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi dari  
konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…





Source : Notes Siti Tulasniati / Ntul

Menjadi Orang Yang Luar Biasa

 
 
 
Ketika kerjamu tidak dihargai 
saat itu kau sedang belajar tentang Ketulusan
 
Ketika usahamu dinilai tidak penting
saat itu kau sedang belajar Keikhlasan
 
 Ketika hatimu terluka sangat dalam
saat itu kau sedang belajar tentang Memaafkan
 
Ketika kau harus lelah dan kecewa
 saat itu kau sedang belajar tentang Kesungguhan
 
Ketika kau merasa sepi dan sendiri
saat itu kau sedang belajar tentang Ketangguhan
 
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung
saat itu kau sedang belajar tentang Kemurah hatian
 
Tetap semangat, tetap sabar..
Tetap tersenyum dan terus belajar..
Karena kau sedang menimba ilmu di universitas KEHIDUPAN.
 
TUHAN menaruhmu di tempatmu yang sekarang, bukan karena kebetulan..
Orang yg hebat tidak díhasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan semata
Mereka díbentuk melalui kesukaran, tantangan dan airmata..
 
Ketika engkau mengalami sesuatu yang sangat berat dan merasa dítinggalkan sendiri dalam hidup ini ...
Angkatlah Tangan dan Kepalamu ke atas ...
Tataplah masa depanmu ...
 
Ketahuilah...
TUHAN sedang mempersiapkanmu untuk menjadi..

"ORANG YG LUAR BIASA" 
 
 
 
 
Source : Notes Eka Nurjannah

Charice...Cerita Tentang sebuah Keyakinan !


 

Charice adalah nama seorang gadis di Philipina, saat itu dia sedang berusia 5 tahun. Dia mempunyai keluarga yang benar2 luar biasa broken home. Hobby ayahnya adalah bergaul dengan sangat erat dengan alcohol secara berlebihan.
 
Suatu hari ayahnya sedang mabuk sangat berat bersiap dengan senapan mengancam menembak ibunya. Tidak ada jalan lain maka Charice bersama ibunya melarikan diri menghindari rumah yang bersuasana neraka.

Adalah merupahkan keadaan sangat normal bahwa saat kita kalau sedang terpuruk hampir seluruh sendi kehidupan kita serasa lumpuh, luluh lantak & tak berdaya sama sekali, peribahasa mengatakan sudah jatuh ketimpa tangga adalah sering terjadi & membuat kondisi kita semangkin lemah jadinya malah sering kali kita ingin menyerah tetapi seperti Charice menyerah hidup apa yang akan dialaminya.. . Hidupnya sudah berada di jalanan...

Namun masih ada sumber kekuatan lain di dalam segala kelemahan kita yaitu menerima keadaan & mempercayai bahwa setiap badai pasti akan berlalu

Selalu ada harapan selama kita menyakininya, hal itu seperti a self fulfilling prophecy bahwa pikiran & harapan kita yang sangat kuat akan terwujud menjadi sebuah kenyataan hanya menunggu waktu aja... & percaya bahwa waktu Tuhan untuk bertindak bukanlah waktu kita tentunya

Dalam kehancuran hidupnya di jalanan, dia setiap kali mengambil buku gambarnya & mulailah dia menggambar impian2nya & dia tetap terus menerus belajar berlatih untuk bisa menyanyi secara baik. 
Dia dengan tidak mengenal lelah sama sekali mengikuti festival2 lagu yang ada & sangat acuh sekali menghadapi hujan cemohan orang2 tentang impian2nya itu.

Harapan atas terwujudnya mimpinya yang demikian sangat kuatnya ini mengantar dia pada tahun 2009 lalu diundang diacara talk show Oprah Winfrey sebagai anak yang berbakat, saat itu dia berusia 15 tahun & seminggu kemudian dia berdiri menyanyi dipodium gedung Madison Square bersama dengan penyanyi kelas dunia Celine Dion. 

Celine adalah salah satu penyanyi idolanya yang pernah dia gambar & memenuhi buku impiannya. Saat itu dia memperlihatkan buku impiannya & berkata don't ever give up to pursue your dream! Ternyata perjuangan tahun demi tahun berakhir sangat manis sekali.
Ini adalah sebuah bukti kenyataan puisi indah dibawah ini...
 
His way is perfect...
Ask for God,
his way is perfect
though we may not understand;
but some day we’ll clearly see it,
for the path has planned
 




Source : Kisah Inspiratif by Melani

Sunday, June 17, 2012

Sebuah Percakapan antara anak dan Tuhan



Seorang anak bertanya kepada Tuhan, "Mereka berkata bahwa esok Kau akan mengirimku ke dunia. Bagaimana aku bisa hidup disana sementara aku masih kecil dan tdk bisa berbuat apa-apa?"
Tuhan berkata, "Dua malaikat sudah menunggu dan akan mengurusi semua keperluanmu di dunia."

Sang anak bertanya lebih jauh, "Tapi, disurga ini aku tdk harus melakukan apapun kecuali bernyanyi dan tersenyum bahagia."
Tuhan berkata, "Dua malaikat akan bernyanyi dan juga tersenyum untukmu dan kamu akan merasakan cinta yg membuatmu bahagia."

Lagi, sang anak bertanya, "Bagaimana aku bisa memahami yg dikatakan orang-orang sementara aku tdk mengerti bahasa mereka ?"
Tuhan berkata, "Dua malaikat akan mengajarimu kata-kata yg paling indah dan manis yg pernah kamu dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, malaikat-malaikat tersebut akan mengajarimu cara berbicara."

Sang anak bertanya, "Apa yg harus aku lakukan ketika ingin berbicara dengan-Mu ?"

Tuhan berkata, "Dua malaikat akan menengadahkan tanganmu dan mengajarkanmu cara berdo'a."
Sang anak berkata, "Siapa yg akan melindungiku ?"

Tuhan berkata, "Dua malaikat akan membelamu, bahkan kalau itu berarti harus membahayakan hidup mereka sendiri."

Sang anak bertanya, "Tapi, aku akan tetap sedih karena tidak bisa melihat-Mu lagi."
Tuhan berkata, "Dua malaikat akan selalu menceritakan tentang Aku dan akan mengajarimu cara kembali kapada-Ku. Meski demikian, Aku akan selalu berada didekatmu."

Untuk sesaat, surga menjadi hening dan yg terdengar hanyalah suara-suara dari bumi. Dengan bergegas, sang anak bertanya kepada Tuhan, "Jika aku harus pergi sekarang, paling tidak beritahu aku nama malaikat-malaikat penjagaku tersebut."
Tuhan berkata, "Kamu akan memanggilnya dengan sebutan Ibu dan Ayah."