Monday, June 18, 2012

Apa Yang Kau Cari Dalam Hidup ??


Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. 
Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. 
Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.
Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. 
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. 
Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. 
Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. 
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. 
Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. 
Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. 
Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" 
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu" Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.
Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. 
Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yang istimewa untuk menjalani ujian di dunia. 
Sehebat apapun ujian yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya...ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan.... bangkitlah! 
Karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.





Source : Kisah Inspiratif by Nyoto Wibowo

Tolong Damaikan Mereka....

 

 
Sore itu...
Terdengar suara azan maghrib, Ina berlari cepat masuk ke kamar. Di dalam kamar yang gelap itu, ia meringkuk di sudut ranjang. Menutup kepalanya dengan bantal dengan sekuat tenaga. Berharap dunia menjadi sunyi senyap. Namun sayup-sayup azan maghrib masih juga terdengar, menembus bantal yang tipis.

Tak lama kemudian, suara-suara nyaring yang bersahutan terdengar. Tangan kecil Ina menekan bantal semakin kuat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Suhu tubuhnya terasa naik. Suara-suara itu tak berhenti malah semakin keras. Beberapa kata makian tertangkap oleh telinga Ina.

Entah berapa lamanya sampai suara-suara itu pun menghilang diakhiri dengan suara deruman motor menjauh. Ayahnya telah pergi. Kemudian disusul suara bantingan pintu. Barulah Ina melepaskan bantal di kepalanya. Rambutnya kuyup, lengket pada kulit wajahnya. Ia membuka matanya yang kecil dan basah. Lekas dihapusnya airmatanya sebelum ia bangkit, meninggalkan kamar itu. Sudah aman. Harus cepat-cepat keluar sebelum ibunya mengomelinya.

Malam itu...
Ina terbangun dari mimpinya. Sejenak ia terdiam menatap gelap, tak sadar sedang ada di mana. Semenit kemudian kesadarannya pulih. Ia tengah di kamarnya, menjalani tidur malam. Lalu mengapa dia terbangun?

Dari balik tembok terdengar suara orang-orang bertengkar. Suara-suara yang dipenuhi amarah dan makian. Kembali jantung Ina berdetak cepat. Ayahnya pulang. Ia melirik jam di samping ranjangnya, pukul setengah dua belas. Pantas saja! Ina menggoyang-goyangkan tubuh sang Kakak yang tertidur pulas di sampingnya. Tapi kakaknya tak bangun juga. Tinggallah ia sendirian dengan tubuh gemetar. Baru saja Ina berniat kembali menutup kepalanya dengan bantal ketika pintu kamarnya terbuka. Dan sosok Ibu muncul di sana. Ina cepat-cepat menutup matanya, pura-pura tidur kembali.

Ibu memanggilnya berulang-ulang. Ina tetap diam. Panggilan Ibu semakin keras. Separuh takut separuh tak tega, Ina kecil membuka matanya.

"Panggil ayahmu tidur di kamar."

Ina bangkit, berusaha tidak menatap wajah ibunya yang tampak begitu marah. Ia melewati ibunya dan pergi ke dapur, menebak ayahnya pasti ada di sana. Ini bukan kejadian pertama, juga tidak akan menjadi kejadian terakhir. Dan di akhir pertengkaran yang tidak berujung ini, ia selalu harus menjadi pembawa pesan damai. Meski damai itu tak pernah benar-benar terwujud.

Ina menyentuh pelan tangan ayahnya. Rasa takut selalu menghantuinya bila berhadapan pada sosok yang tak pernah ramah itu. "Yah, tidur di kamar."

Lelaki itu tidak menggubrisnya. Ia duduk di kursi dengan kepala tertunduk dan wajah tersembunyi di balik tangannya.

"Yah... Tidur di kamar," ulang Ina kembali seperti menyanyikan lagu yang sudah sangat dihapalnya. Bagaimana tidak, kalimat itu, kata-kata itu setiap malam harus diucapkannya.

Entah karena kasihan padanya atau karena memang sudah tahu mesti menjalani akhir yang seperti ini, ayahnya bangkit, berjalan masuk ke kamar. Begitupun Ina, kembali ke kamarnya. Begitupun ibunya tak lama kemudian menyusul ke kamar, tidur dalam senyap dengan sang Ayah.

Lama Ina tak bisa tidur, berbaring di kamarnya yang sempit dan gelap itu. Suara-suara Ayah ibunya terdengar kembali, terngiang-ngiang begitu jelas di telinganya, tak mau pergi. Dan teror ketakutan kembali memeluknya. Ia tak mengerti mengapa Ibu setiap sore dan malam harus siap dengan begitu banyak pertanyaan pada Ayah.
Ia tak mengerti mengapa Ayah tak pernah mau pulang lebih awal agar rumah ini bisa damai. Dan ia tak mengerti mengapa dua orang yang katanya saling mengasihi bisa saling memaki dan membenci.

Jiwa kecilnya memberontak, menangis, tak tahu harus berbuat apa. Tak tahu bagaimana mengusir ketakutan yang selalu mengikuti langkahnya setiap hari. Membuatnya membenci sore dan malam hari.
Sore hari ketika ayahnya mesti berangkat kerja ke sebuah restoran, dan malam hari ketika ayahnya terlambat pulang. Karena sore dan malam hari adalah saat-saat yang begitu mencekam jiwanya.

Tak pernah dilihatnya Ayah dan ibunya saling memeluk atau bersentuhan. Ia bahkan tak pernah disentuh mereka. Hanya ada kemarahan dan kebencian di wajah mereka berdua. Dan kebencian itu mulai terasa membakar rumah ini. Membuat Ina kecil panik, ingin bisa bersembunyi di tempat yang tak terjangkau. Seandainya saja mereka punya lorong rahasia di bawah tanah...

Ia takut. Takut bila ayahnya menjadi kalap dan memukul ibunya. Ia takut mendengar jeritan kemarahan Ibu yang menggetarkan jiwanya. Ia ingin berlari, tapi ke mana? Ia ingin meminta mereka untuk berhenti, tapi bagaimana? Mereka tak pernah mempedulikannya. Mereka tak menggubrisnya. Mereka hanya sibuk dengan emosi masing-masing. Apakah memang seperti itu menjadi orang dewasa?

Sering Ina berkhayal seandainya Ayah ibunya saling bergandengan tangan dan menyapanya dengan lembut. Dan mereka berempat menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Seperti halnya ia sering melihat Ayah dan Ibu Cece, teman baiknya, yang selalu akur di manapun mereka berada.

Ina kecil menangis tersedu-sedu di balik bantal yang menutup kepalanya. Tak sadar terucap doa dari bibir mungilnya. Meminta pada Tuhan untuk mendamaikan kedua orangtuanya. Meminta Tuhan untuk menghilangkan sore dan malam hari dari hidupnya. Ia masih terus menangis hingga ia jatuh tertidur. Sejenak terlepas dari semua beban jiwa dan deritanya. Namun entah apa yang akan menantinya esok hari.


Akankah ada episode yang sama, juga ketakutan yang sama menunggunya kembali ???

Note : Selalu ada anak yang jadi korban keegoisan orangtua dan orang dewasa lainnya...damai...damai...n damai lah kawan. Peace is great...!!





Source : Kisah Inspiratif by Angel Li

Laki laki Sejati





Aku bertanya pada Bunda, bagaimana memilih lelaki sejati?


Bunda menjawab, Nak…
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari 
kasih sayangnya pada orang disekitarnya….


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari 
kelembutannya mengatakan kebenaran…..
 

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari  
sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi  
bagaimana dia dihormati didalam rumah…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari  
sikap bijaknya memahami persoalan…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari 
hati yang ada dibalik itu…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi  
komitmennya terhadap wanita yang dicintainya…


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari 
tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan…


Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi dari  
konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…





Source : Notes Siti Tulasniati / Ntul

Menjadi Orang Yang Luar Biasa

 
 
 
Ketika kerjamu tidak dihargai 
saat itu kau sedang belajar tentang Ketulusan
 
Ketika usahamu dinilai tidak penting
saat itu kau sedang belajar Keikhlasan
 
 Ketika hatimu terluka sangat dalam
saat itu kau sedang belajar tentang Memaafkan
 
Ketika kau harus lelah dan kecewa
 saat itu kau sedang belajar tentang Kesungguhan
 
Ketika kau merasa sepi dan sendiri
saat itu kau sedang belajar tentang Ketangguhan
 
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung
saat itu kau sedang belajar tentang Kemurah hatian
 
Tetap semangat, tetap sabar..
Tetap tersenyum dan terus belajar..
Karena kau sedang menimba ilmu di universitas KEHIDUPAN.
 
TUHAN menaruhmu di tempatmu yang sekarang, bukan karena kebetulan..
Orang yg hebat tidak díhasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan semata
Mereka díbentuk melalui kesukaran, tantangan dan airmata..
 
Ketika engkau mengalami sesuatu yang sangat berat dan merasa dítinggalkan sendiri dalam hidup ini ...
Angkatlah Tangan dan Kepalamu ke atas ...
Tataplah masa depanmu ...
 
Ketahuilah...
TUHAN sedang mempersiapkanmu untuk menjadi..

"ORANG YG LUAR BIASA" 
 
 
 
 
Source : Notes Eka Nurjannah

Charice...Cerita Tentang sebuah Keyakinan !


 

Charice adalah nama seorang gadis di Philipina, saat itu dia sedang berusia 5 tahun. Dia mempunyai keluarga yang benar2 luar biasa broken home. Hobby ayahnya adalah bergaul dengan sangat erat dengan alcohol secara berlebihan.
 
Suatu hari ayahnya sedang mabuk sangat berat bersiap dengan senapan mengancam menembak ibunya. Tidak ada jalan lain maka Charice bersama ibunya melarikan diri menghindari rumah yang bersuasana neraka.

Adalah merupahkan keadaan sangat normal bahwa saat kita kalau sedang terpuruk hampir seluruh sendi kehidupan kita serasa lumpuh, luluh lantak & tak berdaya sama sekali, peribahasa mengatakan sudah jatuh ketimpa tangga adalah sering terjadi & membuat kondisi kita semangkin lemah jadinya malah sering kali kita ingin menyerah tetapi seperti Charice menyerah hidup apa yang akan dialaminya.. . Hidupnya sudah berada di jalanan...

Namun masih ada sumber kekuatan lain di dalam segala kelemahan kita yaitu menerima keadaan & mempercayai bahwa setiap badai pasti akan berlalu

Selalu ada harapan selama kita menyakininya, hal itu seperti a self fulfilling prophecy bahwa pikiran & harapan kita yang sangat kuat akan terwujud menjadi sebuah kenyataan hanya menunggu waktu aja... & percaya bahwa waktu Tuhan untuk bertindak bukanlah waktu kita tentunya

Dalam kehancuran hidupnya di jalanan, dia setiap kali mengambil buku gambarnya & mulailah dia menggambar impian2nya & dia tetap terus menerus belajar berlatih untuk bisa menyanyi secara baik. 
Dia dengan tidak mengenal lelah sama sekali mengikuti festival2 lagu yang ada & sangat acuh sekali menghadapi hujan cemohan orang2 tentang impian2nya itu.

Harapan atas terwujudnya mimpinya yang demikian sangat kuatnya ini mengantar dia pada tahun 2009 lalu diundang diacara talk show Oprah Winfrey sebagai anak yang berbakat, saat itu dia berusia 15 tahun & seminggu kemudian dia berdiri menyanyi dipodium gedung Madison Square bersama dengan penyanyi kelas dunia Celine Dion. 

Celine adalah salah satu penyanyi idolanya yang pernah dia gambar & memenuhi buku impiannya. Saat itu dia memperlihatkan buku impiannya & berkata don't ever give up to pursue your dream! Ternyata perjuangan tahun demi tahun berakhir sangat manis sekali.
Ini adalah sebuah bukti kenyataan puisi indah dibawah ini...
 
His way is perfect...
Ask for God,
his way is perfect
though we may not understand;
but some day we’ll clearly see it,
for the path has planned
 




Source : Kisah Inspiratif by Melani

Sunday, June 17, 2012

Sebuah Percakapan antara anak dan Tuhan



Seorang anak bertanya kepada Tuhan, "Mereka berkata bahwa esok Kau akan mengirimku ke dunia. Bagaimana aku bisa hidup disana sementara aku masih kecil dan tdk bisa berbuat apa-apa?"
Tuhan berkata, "Dua malaikat sudah menunggu dan akan mengurusi semua keperluanmu di dunia."

Sang anak bertanya lebih jauh, "Tapi, disurga ini aku tdk harus melakukan apapun kecuali bernyanyi dan tersenyum bahagia."
Tuhan berkata, "Dua malaikat akan bernyanyi dan juga tersenyum untukmu dan kamu akan merasakan cinta yg membuatmu bahagia."

Lagi, sang anak bertanya, "Bagaimana aku bisa memahami yg dikatakan orang-orang sementara aku tdk mengerti bahasa mereka ?"
Tuhan berkata, "Dua malaikat akan mengajarimu kata-kata yg paling indah dan manis yg pernah kamu dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, malaikat-malaikat tersebut akan mengajarimu cara berbicara."

Sang anak bertanya, "Apa yg harus aku lakukan ketika ingin berbicara dengan-Mu ?"

Tuhan berkata, "Dua malaikat akan menengadahkan tanganmu dan mengajarkanmu cara berdo'a."
Sang anak berkata, "Siapa yg akan melindungiku ?"

Tuhan berkata, "Dua malaikat akan membelamu, bahkan kalau itu berarti harus membahayakan hidup mereka sendiri."

Sang anak bertanya, "Tapi, aku akan tetap sedih karena tidak bisa melihat-Mu lagi."
Tuhan berkata, "Dua malaikat akan selalu menceritakan tentang Aku dan akan mengajarimu cara kembali kapada-Ku. Meski demikian, Aku akan selalu berada didekatmu."

Untuk sesaat, surga menjadi hening dan yg terdengar hanyalah suara-suara dari bumi. Dengan bergegas, sang anak bertanya kepada Tuhan, "Jika aku harus pergi sekarang, paling tidak beritahu aku nama malaikat-malaikat penjagaku tersebut."
Tuhan berkata, "Kamu akan memanggilnya dengan sebutan Ibu dan Ayah."




Kisah 4 Lilin



Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
 
Yang pertama berkata:
“Aku adalah Damai, Namun manusia tak mampu menjagaku : maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
 
Yang kedua berkata:
“ Aku adalah Iman , Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku, Untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
 
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:
“ Aku adalah Cinta, Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga...Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“ Ekh apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu. Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata: “Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

Akulah, “HARAPAN”
 
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya .Sekarang ketiga lilin menemani kembali lilin pengharapan.
 
 Apa yang tidak pernah mati hanyalah “HARAPAN” yang ada dalam hati kita....

...dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!!!
 
 
 
 
Source : Notes Owmen Zakomen

Ikan Kecil

 
Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. 
 
Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimakah air?”

Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya. 
 
 
 
 
Source : Kisah Inspiratif

Pasir dan Batu

 
Dua orang sahabat sedang berjalan dipadang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu, salah seorang dari mereka menampar temannya, dan yang ditampar merasa sakit, tetapi dia tidak berkata apa2..dia hanya menulis diatas pasir "HARI INI TEMAN BAIKKU TELAH MENAMPARKU". 
 
Merekapun tetap berjalan sampai menemukan oase (mata air). Kemudian merekapun sepakat untuk mandi. seorang yang ditampar tadi tergelincir dan hampir tenggelam di oase tsb, beruntung temannya berhasil menolongnya..dan setelah diselamatkan dari bahaya tersebut, dia menulis diatas batu "HARI INI TEMAN BAIKKU TELAH MENYELAMATKAN NYAWAKU". 
 
Teman yang telah menampar dan sekaligus menyelamatkan nyawanya itu bertanya.."ketika saya menyakitimu, kamu menulisnya di pasir, tetapi kenapa sekarang kamu menulisnya diatas batu..?". Iapun menjawab: 
"ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas pasir..supaya angin menerbangkannya dan menghapusnya sehingga bisa termaafkan, tetapi ketika seseorang melakukan hal baik kepada kita, kita hrs mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yg dapat menghapus kebaikannya sampai kapanpun"... 
 
 
 
  
Source : Kisah Inspiratif

Rajawali Yang Cerdik

 
Di Suatu hari yang panas seekor rajawali sangat haus dan ingin minum. Sungai amat jauh dan sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk minum. Ia tidak melihat kolam air di mana pun. Ia terbang berputar-putar. Akhirnya ia melihat sebuah buyung di luar rumah. 
 
Rajawali terbang turun ke buyung itu. Di sana ada sedikit air di dasar buyung. Rajawali memasukkan kepalanya ke dalam buyung tetapi ia tidak menggapai air itu. Ia memanjat ke atas buyung. Ia memasukkan lagi kepalanya ke dalam buyung tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air itu.
 
Kemudian ia mencari akal.

Rajawali itu terbang tinggi dan kemudian turun menuju ke buyung untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi buyung itu amat kuat. Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar terbang kearah buyung kemudian ia menabrakkan sayapnya. 
 
Ia mencoba memecahkannya, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi buyung itu amat kuat. Rajawali itu amat letih bila harus terbang lebih jauh lagi. Ia berpikir ia akan mati kehausan.

Rajawali itu duduk termenung di sarangnya. Ia berpikir terus menerus Ia tidak mau mati karena kehausan. Ia melihat banyak batu-batu kecil di tanah. 
 
Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam buyung. Ia memasukkan dan memasukkan terus. Air itu naik lebih tinggi setiap kali batu jatuh ke dalam buyung. Buyung itu hampir penuh dengan batu. Air telah naik sampai ke permukaan. 
 
Rajawali yang pintar itu memasukkan paruhnya dan ia mendapatkan air. Pepatah mengatakan bahwa “ Jika ada kemauan pasti ada jalan. “ Rajawali itu telah membuktikan
 
 
 
 
 
Source : Kisah Inspiratif by Debora Hartoyo

Pelita



Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." 

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."
 
Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
 
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak... secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya...," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
 
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."
 
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. 
 
Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
 
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.
 
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
 
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
 
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
 
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
 
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. 
 
 
 
 
Source : Kisah Inspiratif by Wilson N. Dominggus

Koin Peninggalan Kakek


Kugenggam koin itu di telapak tanganku. Dengan erat. Takkan kulepaskan barang sedetik pun. Terus dan terus kugenggam, sampai terkadang terasa menyakitkan. Ketika kuku-kuku jariku menancapkan dirinya ke telapak tanganku sendiri. Berbekas, bertanda, dan sakit. Itu karena aku takut koin itu terlepas begitu saja.

Koin itu begitu berharga. Koin itu memang sebetulnya sebuah koin langka yang amat kusukai. Koin itu peninggalan dari kakekku, seorang kolektor koin. Di antara banyak koin yang dimilikinya hanya ini yang kusukai. Mungkin karena tahun di koin ini sama dengan tahun lahir kakek. Tahun 1930. Kakek yang meninggal tahun lalu memang juga merupakan kesayanganku, sama seperti aku adalah kesayangannya.

Tuk…Aduhhh…
Tak hati-hati aku tersandung sebuah kerikil yang agak besar ketika aku berjalan pulang ke rumahku. Koin itu-sekeras apa pun genggamanku-terlepas begitu saja dari tanganku. Gerak reflek ketika aku tersandung, terantuk, untungnya tak sampai tersungkur ke tanah. Koin itu hilang, raib entah ke mana. 
Duhhh, tak tahukah koin itu begitu berharga? Aku menangis mencarinya. Tetapi agaknya usahaku malam itu sia-sia. Bulan pun seolah kurang berkompromi dan tak mau kerja sama dengan berlindung di balik awan. Bintang pun tak bersinar malam ini… Dan koin itu menggelinding di balik semak, tertutup lumpur dan becek yang menggenangi sebagian daerah tempat tinggalku karena hujan deras beberapa jam sebelumnya.

Aku menangis.
Ketika harus merelakan sesuatu yang kugenggam amat erat, itu adalah sesuatu yang berat. Jujurnya, aku belum rela. Aku lepaskan genggaman tanganku karena terpaksa. Herannya, tak kurasakan lagi kesakitan yang ada di tanganku seperti hari-hari sebelumnya. Ketika segalanya kugenggam erat. 
Ya, ada rasa yang hilang-ada kesedihan yang luar biasa ketika kehilangan koin kakek. Namun, di sisi yang berseberangan: aku koq merasakan kelegaan yang luar biasa karena tak lagi merasa tersiksa? Kuku-kuku itu tak lagi menyakitiku…

Dari kejadian itu aku belajar bahwa: banyak kali aku menggenggam sesuatu terlalu erat. Mungkin itu pacarku, suami/istriku, anakku, keinginanku yang harus terjadi, masa depanku, dan segala hal yang ingin kujadikan yang terbaik dengan caraku dan hanya dengan caraku. 
Namun, ada kalanya aku keliru. Menganggap dengan mengontrol segalanya, menempatkan semuanya dalam genggaman tanganku dan memegangnya erat-erat akan menghasilkan rasa aman dan nyaman. Aku keliru. Aku salah besar! Ternyata aku malah mengalami hari-hari yang mencekam: hidup dalam ketakutan, hidup dalam kecemasan, kuatir jangan-jangan mereka akan pergi meninggalkanku. Jangan-jangan apa yang kuinginkan tidak terjadi lalu bagaimana aku harus melanjutkan hidupku?

Ketika aku menggengamnya dengan lembut, dengan kekuatan yang cukup tetapi tidak memaksa, malahan kurasakan kenyamanan di tanganku sendiri. Mungkin ketika berelasi dengan orang-orang yang terkasih, orang-orang yang dekat di hati, inilah yang seharusnya kulakukan. Bukan dengan tangan besi, tetapi dengan menjadi pendengar yang baik yang bisa curhat dari hati ke hati.

Ketika aku menginginkan sesuatu yang sudah lama kugenggam dengan erat, ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan keinginanku.
Aku marah. Aku kecewa.
Tetapi di balik itu pula, ketika keinginan itu terlepas dari tanganku, malah aku merasa lega. Ya, aku akan menangis, meraung, kecewa dan marah. Tetapi, setelah semua proses itu berlalu…Aku malah jadi bahagia. Suka cita meliputiku.

Segala sesuatu yang digenggam terlalu erat dalam hidup ini, akan berwujud kecewa. Sehingga ada baiknya sadar bahwa apa yang dimiliki adalah sifatnya sementara. Hanya titipan yang kuasa sampai saat Dia memintanya kembali dari kita.

Koin itu masih hilang, perasaanku juga masih belum pulih seratus persen. Namun, aku percaya akan kutemukan koin yang baru… Dan kakek, semoga kau mengerti bahwa justru aku bersyukur untuk pelajaran kehidupan dari koin yang kugenggam terlalu erat ini… Kakek, aku tetap sayang Kakek… Dengan ataupun tanpa koin peninggalanmu itu …

Kuhapus air mataku, kulanjutkan menuliskan surat cintaku buat Kakek. Mulai hari ini, akan kutuliskan banyak kebaikan kakek…Termasuk inspirasi koin yang kudapatkan dan pembelajaran di dalamnya. Aku tak lagi hendak menggenggam segala sesuatu terlalu erat, karena itu semua bukanlah milikku. Itu milik-Nya yang dipercayakannya padaku. 
Sulit memang untuk menerima ini semua. Tetapi ketika aku belajar untuk mempercayakan genggaman tangan yang lain, genggaman tangan-Nya yang berpadu dalam telapak tanganku, tiba-tiba saja kurasakan kekuatan baru. Ya, menjejakkan langkah dengan tenteram dalam hidup ini bersama-Nya. Mempercayakan setiap koin yang dia taruh di genggamanku dan mempersembahkan kepada-Nya.

Jangan lepaskan genggaman tangan-Mu dari diriku, Tuhan.
Aku…Ya, aku mau terus ikut dengan-Mu. Saat ini dan selamanya.




Source : Kisah Inspiratif by fon

Renungan Seorang Anak

 
 
Mari kita renungkan bersama..

Kenanglah IBU yg menyayangi kita, untuk IBU yg selalu meneteskan air mata ketika kita pergi... Ingatkah kita ketika IBU rela tidur tanpa selimut demi melihat kita tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuh kita...

Ingatkah kita ketika jemari IBU mengusap lembut kepala kita?? dan ingatlah kita ketika airmata menetes dari mata IBU kita, Ketika melihat kita terbaring sakit..

Sesekali jenguklah IBU kita yg selalu menantikan kepulangan kita di rumah tempat kita dilahirkan.. Kembalilah minta maaf pada IBU yang selalu rindu akan senyum kita.. Jangan biarkan kita kehilangan saat2 yang akan kita rindukan di masa datang ketika IBU telah tiada... 
 
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita. Tak ada lagi senyum indah..tanda bahagia. Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.. Yang ada hanyalah baju yang tergantung di lemari kamarnya. Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akan kita disetiap hembusan nafasnya. Kembalilah segera....

Peluklah IBU yg selalu menyayangi kita.. Ciumlah kaki IBU.. Yang selalu merindukan kita. ..Dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.. Kenanglah semua cinta & kasih sayangnya..

IBU... Maafkan aku... 
Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas... 
Wahai anak yg berbakti berikanlah yg terbaik buat IBU.. Baik atau buruk,cantik atau jelek.. 
Ia tetap IBU kita.. 
 
 
 
 
Source : Kisah Inspiratif by Christine Angela

Saturday, June 16, 2012

Seni Mendengar


Banyak orang bisa 'berkata', namun sedikit yang mau 'mendengar'.

Padahal jika kita mau kembali ke hukum alam, seharusnya kita harus lebih banyak mendengar daripada bicara. Bukankah Tuhan memberi kita dua telinga dan hanya satu mulut?

Begitupun jika kita saksikan pada bayi yang baru lahir. Indra pendengaran lebih dulu berfungsi daripada yang
lainnya. Lalu, mengapa mendengar lebih susah daripada berbicara?

Meski secara kasat mata mendengar adalah hal yang gampang, namun nyatanya banyak orang yang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan. Mendengarkan merupakan bagian esensi yang menentukan komunikasi efektif. Tanpa kemampuan mendengar yang bagus, biasanya akan muncul banyak masalah.

Yang sering terjadi, kita merasa bahwa kitalah yang paling benar. Kita tidak tertarik untuk mendengarkan opini yang berbeda dan hanya tergantung pada cara kita.

Selalu merasa benar, paling kompeten, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Duh... malaikat kali! 
Jika kita selalu merasa bahwa diri kita benar, dan cara kitalah yang paling tepat, itu berarti kita tidak pernah
mendengarkan.

Ide dan opini kita sangat sukar untuk diubah jika fakta tidak mendukung keyakinan kita. Bahkan kalau ada fakta pun kita mungkin hanya akan sekedar meliriknya saja.

Mungkin saat ini kita nyaman dengan cara kita, tapi untuk jangka waktu yang panjang, orang-orang akan menolak dan membenci kita.

Jika kita mau mulai mendengarkan orang lain, maka suatu saat kita akan menyadari kesalahan kita. Jawaban
untuk mengatasi sifat ini adalah mengasah skill mendengar aktif.
Mendengar tidak selalu dengan tutup mulut, tapi juga melibatkan partisipasi aktif kita. Mendengar yang baik bukan berharap datangnya giliran berbicara.

Mendengar adalah komitmen untuk memahami pembicaraan dan perasaan lawan bicara kita. Ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang orang lain bicarakan adalah bermanfaat untuk kita.
Pada saat yang sama kita juga bisa mengambil manfaat yang maksimal dari pembicaraan tersebut.

Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship. Jika kita melakukannya dengan baik, orang-orang akan tertarik dengan kita dan interaksi kita akan semakin harmonis.

Berikut teknik mudah yang dapat dipraktekkan oleh kita dengan sangat wajar untuk menjadi seorang pendengar yang baik :
Peliharalah kontak mata dengan baik. Ini menunjukkan kepada lawan bicara tentang keterbukaan dan kesungguhan kita

Condongkan tubuh ke depan. Ini menunjukkan ketertarikan kita pada topik pembicaraan. Cara ini juga akan mengingatkan kita untuk memiliki sudat pandang yang lain, yaitu tidak hanya fokus pada diri kita.

Buat pertanyaan ketika ada hal yang butuh klarifikasi atau ada informasi baru yang perlu kita selidiki dari
lawan bicara kita.

Buat selingan pembicaraan yang menarik. Hal ini bisa membuat percakapan lebih hidup dan tidak monoton.

Cuplik atau ulang beberapa kata yang diucapkan oleh lawan bicara kita. Ini menunjukkan bahwa kita memang mendengarkan dengan baik hingga hapal beberapa cuplikan kata.

Buatlah komitmen untuk memahami apa yang ia katakan, meskipun kita tidak suka atau marah. Dari sini kita akanmengetahui nilai-nilai yang diterapkan lawan bicara kita, yang mungkin berbeda dengan nilai yang kita terapkan.

Dengan berusaha untuk memahami, bisa jadi kita akan menemukan sudut pandang, wawasan, persepsi atau kesadaran baru, yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya.

Seorang pendengar yang baik sebenarnya hampir sama menariknya dengan pembicara yang baik. Jika kita selalu pada pola yang benar untuk jangka waktu tertentu, maka suatu saat kita akan merasakan
manfaatnya.

Prosesnya mungkin akan terasa lama dan menjemukan, tapi lama-kelamaan akan terasa berharganya upaya yang telah kita lakukan. Kita akan merasa lebih baik atas diri kita, hubungan kita, teman-teman kita, anak-anak kita, maupun pekerjaan.

Kesimpulannya : Jadilah pendengar yang baik, karena sifat ini bisa menjadi kunci untuk mengembangkan pikiran yang positif, dan merupakan salah satu tangga kita untuk mencapai kesuksesan!




Source : Anne Ahira

Berkompromi Dengan Perasaan Perempuan


Dunia memang penuh dengan anomali kehidupan yang terkadang sulit dipahami oleh akal. Salah satunya adalah Perasaan Perempuan.

Perasaan perempuan itu seperti apa sih?

Lembut, keras, tegas, ragu-ragu, dan berbagai rupa rasa lainnya. Perasaan peremuan inilah yang menjadi misteri sepanjang zaman.

Sesama perempuan saja kadang-kadang saling sebal karena sangat sulit memahami perasaan perempuan lainnya. Pertengkaran sering terjadi hanya karena masalah sepele. Laki-laki pun tidak kalah bingungnya bila sudah menyangkut masalah perasaan perempuan.

Perempuan begitu memperhatikan hal detil. Ada yang salah sedikit dengan alisnya atau sepatunya, atau kulitnya menjadi sedikit belang setelah berenang, dia bisa terus khawatir dan ngomel seharian.

Padahal, bila ditanya pada laki-laki, apakah mereka memperhatikan apa yang sering diperhatikan perempuan bila ingin menarik perhatian laki-laki? Apa jawab mereka? Ternyata laki-laki tidak terlalu perhatian dengan hal yang selama ini menjadi perhatian perempuan. 

Satu lagi, perempuan suka pamer. Perasaannya akan berbunga-bunga beraneka warna kalau sudah dipuja-puji. Oleh karena itu, pakaian seksi yang terbuka di sana sini pun dipakai demi meraih setitik pujian. Padahal, banyak laki-laki justru penasaran kalau melihat wanita manis tapi berbalut pakaian yang tertutup.

Ken Arok bisa tergila-gila dengan Ken Dedes, bukan karena Ken Dedes berpakaian maha seksi, tapi hanya karena melihat betis Ken Dedes 'sekilas' tertiup angin. Bayangkan, hanya sekilas saja sudah bisa membuat Ken Arok melakukan begitu banyak hal demi mendapatkan Ken Dedes. Sementara Ken Dedes bukanlah seorang perawan ketika itu. Dia adalah istri Tunggul Ametung, dan sedang mengandung anak Tunggu Ametung.

Perempuan oh perempuan... mereka memang spesial
Banyak laki-laki sering bertanya "Tidak mengerti saya apa maunya, jadi saya harus gimana?"

Bagaimana cara memahami dan berkompromi dengan perasaan perempuan:

Perempuan suka didengarkan. Jadi kalau dia sedang marah,dengarkan saja. Kalau diladeni, tujuh hari tujuh malam, dia tahan bertengkar!

Perempuan suka dilembuti. Jangan pernah sekali-kali kasar pada perempuan karena perempuan bisa menjadi lebih kasar.

Perempuan suka diberi kejutan-kejutan kecil. Tidak harus memberi emas berlian pada sang istri, cukup kecupan mesra di kening tapi penuh cinta nan lembut.

Sentuhlah perempuan dengan kasih yang sesungguhnya. Kasih ini akan membuat perempuan memberikan cinta yang lebih.

Berikan perhatian setiap saat. Ketika tidur pun sebenarnya perempuan ingin diperhatikan. Ketersipuannya menandakan rasa senangnya diperhatikan.

Kirim selalu kata-kata mesra nan menggoda. Walau kata-kata cinta terasa biasa, tidak bagi perempuan. Kata-kata "Aku kangen kamu sayang", atau "Sehari tanpa mendengar suaramu, aku bisa gila",atau "Hanya kamu yang membuatku tergila-gila", sudah cukup membuat hati perempuan melambung ke langit tujuh. Menggetarkan relung-relung hati dan jiwanya. Perempuan memang unik dan special. Sayangi dia, dan Anda akan mendapatkan ribuan kali lipat cintanya. 




Source : Anne Ahira

Hargai Yang Kita Miliki


Pernahkah kita mendengar kisah Helen Kehler? Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan dalam kondisi buta dan tuli. Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dalam kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan memilih untuk lahir dalam keadaan normal.

Namun siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki semangat hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang legendaris.

Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi dan semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan pula, seperti cacat, buta dan tuli.

Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya mampu menjalani kehidupan seperti manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit dilakukan.

Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah diucapkan Helen Kehler:

            "It would be a blessing if each person
             could be blind and deaf for a few days
            during his grown-up live. It would make
            them see and appreciate their ability to
            experience the joy of sound".


Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugerah bila setiap orang yang sudah menginjak dewasa itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.

Dengan demikian, setiap orang akan lebih menghargai hidupnya, paling tidak saat mendengar suara!

Sekarang, coba kita bayangkan sejenak....

........kita menjadi seorang yang buta dan tuli selama dua atau tiga hari saja!

Tutup mata dan telinga selama rentang waktu tersebut. Jangan biarkan diri kita melihat atau mendengar apapun.

Selama beberapa hari itu kita tidak bisa melihat indahnya dunia, kita tidak bisa melihat terangnya matahari, birunya langit, dan bahkan kita tidak bisa menikmati musik/radio dan acara tv kesayangan!

Bagaimana ? Apakah beberapa hari cukup berat? Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?

Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja, bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada dalam diri kita!

Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah menghargai apa yang sudah kita miliki.

Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati oleh orang lain.  Ya! Kemewahan untuk orang lain!

Coba kita renungkan, bagaimana orang yang tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah kemewahan yang luar biasa baginya.

Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin akan mampu melakukan banyak hal, termasuk membuat sebuah tulisan yang menarik.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan bisa memandang hidup dengan lebih baik.

Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah! Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif dan menjadi seorang manusia yang lebih baik
 
 
 
 
Source : Anne Ahira

Kesendirian Tidak Selalu Mematikan


Banyak orang yang tidak menyukai kesendirian, karena waktu yang dilewati terasa lebih panjang dan melelahkan.
 
'Sendiri oh sendiri'... Ternyata hal remeh ini bisa menjadi masalah besar bagi sebagian orang!

Apakah kita termasuk yang demikian?  

Memang, kesendirian seringkali diidentikkan dengan hal yang menakutkan, mengesalkan, bahkan menjadi simbol kesedihan. Namun, jika kita mau membuka pikiran, sebenarnya kesendirian itu tidak selalu mematikan!

Kesendirian bisa memiliki dua makna...
 
Pertama, kesendirian menyangkut fisik yang sebenarnya, tanpa ada orang di sekitarnya. Kedua, hanya berbentuk perasaan saja.

Bisa jadi seseorang berada di tengah keramaian, namun merasakan kesunyian. Mungkin kita pernah mengalami  hal serupa, terutama ketika menemui masalah dengan rekan kerja, sahabat, keluarga, atau pacar?  dan lain sebagainya..!

Satu hal yang perlu kita ingat, kesendirian dengan arti apapun sebenarnya bukan masalah jika kita mampu mengelolanya dengan baik, atas perasaan, sikap dan segala situasinya.

Bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih bermakna? Lakukan hal berikut :

  • Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif yang sangat kita sukai, misalnya dengan membaca, menulis, olahraga, menyanyi?  Apapun kesukaan kita. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih menyenangkan!
  • Kedua, ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi impian kita dan belum sempat dilakukan. kita bisa membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman dulu, buku-buku, dan lain sebagainya. Percaya, cara ini akan menyadarkan kita akan sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya. Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi menyenangkan?
  • Ketiga, buat daftar sebanyak-banyaknya tentang keinginan yang ingin kita wujudkan selagi masih hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali 'keinginan gila' saat kita masih kecil? Atau mimpi- mimpi lain yang belum terlaksanakan? Saat itu kita akan sadar, ternyata banyak sekali hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya!
  • Dan yang terakhir.... Sebenarnya ini merupakan hal *utama* dan yang pertama yang harus kita lakukan...Mendekatlah kepada Yang Maha Mencinta diri kita. Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat keberadaan kita di dunia. Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin kokoh kemampuan kita mengarungi kehidupan, dengan segala situasinya.
Intinya, jangan biarkan kita terjebak dalam kesendirian dengan suasana 'hati yang negatif', membiarkannya berlarut-larut, hingga membuat kita putus asa.

Kalau kita mau membuka mata, kita sebenarnya tidak pernah benar-benar sendiri. Ada orang lain di sekitar
kita.Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa kita jadikan teman, dan ajak bicara!

Jika kita mau terbuka, dalam kesendirian kita bisa merenungkan banyak hal. Dalam kesendirian kita bisa menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian,dan memaksimalkan potensi yang kita miliki.

Dalam kesendirian pula kita bisa mengungkap kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan ego yang seringkali kita temukan di keramaian!

Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan saja kepada setiap orang, termasuk kepada kita.

Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini kita sedang dilanda 'kesepian' alias merasa 'sunyi sepi sendiri',
kita harus ingat, bahwa kesendirian tidak selamanya mematikan!

Kelola-lah perasaan dengan baik, dan buatlah kesendirian menjadi lebih bermakna




Source : Anne Ahira

Tetapkan Tujuan Hidup


"Without goals, and plans to reach them, you are
like a ship that sail with no destination" (Fritzhugh Dodson)

Itulah perumpamaan bagi orang yang tidak punya tujuan dalam hidupnya.

Banyak orang melakoni perannya, tapi tidak tahu arah hidup yang ingin ditujunya. Mereka-reka hidup adalah apa yang kemudian dilakukannya. Bila sesuatu hal buruk terjadi, mereka akan berdalih nasib tak berpihak padanya.

Tidak jarang seseorang baru menyadari tujuan hidupnya pada usia tua. Sangat disayangkan memang.

Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu adanya perubahan tersebut... hingga akhirnya tujuan hidupnya tidak tercapai!

Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah tujuan hidup beberapa kali. Hal yg terpenting adalah  setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin dicapai.
Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan strategi apa yang harus diambil.

4 Cara Yang Bisa kita Pakai Untuk Menetapkan Tujuan Hidup: 

Apa sebenarnya keinginan kita? 
Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya keinginan kita untuk beberapa tahun ke depan? Tidak ada salahnya kita bermimpi. Kita tidak perlu malu mengakuinya, lagipula, toh tidak ada biaya yang harus kita keluarkan untuk sekedar bermimpi. 

Kumpulkan informasi.
Dengan mengumpulkan informasi, kitabisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan. Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan yang kita nginkan, belajarlah dari mereka. Lakukan apa yang mereka kerjakan!
Jangan diam.
Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan membawa kita pada impian hidup yang diinginkan!
Tingkatkan kemampuan
Jika ada cara yang lakukan terbukti efektif dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai, maka alangkah baiknya jika Euis berusaha untukmeningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan kinerja agar tujuan hidup kita lebih cepat tercapai.

Jika keempat hal di atas kita lakukan secara terus menerus tanpa lelah dan bosan, Insya-Allah kita akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan.
 
Kita ibaratnya adalah seorang 'pemahat' atas gambaran kehidupan kita sendiri. Dan seorang pemahat yang baik akan selalu memiliki 'planning' terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Dalam hal ini,kita pun hanya bisa sebesar dan sebahagia sebagaimana tujuan yang telah kita tentukan. Oleh sebab itu, pahatlah diri kita sebaik-baiknya!




Source : Anne Ahira

Nikmatilah Perbedaan...!!


Perbedaan adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa!

Lihatlah sekeliling kita, indahnya warna-warni bunga, warna-warni satwa, dan segala keragaman lain yang menghiasi dunia.
 
Bayangkan kalau kita hanya mengenal warna hitam saja! Alangkah gelapnya dunia ini! Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni kita tidak akan merasakan hidup semeriah dan seindah sekarang ini,betul?! 
 
Begitu pun dengan kehidupan, setiap insan selalu berhadapan dengan segala macam perbedaan dan warna-warni kehidupan. Tapi sayang, tidak semua orang mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan. Banyak orang merasa tersiksa karena perbedaan alias mereka tidak mampu menikmatinya.

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya karena perbedaan. Entah itu perbedaan warna kulit, agama, suku bangsa, prinsip, atau sekadar pendapat.

Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Setiap orang lahir dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan fisik, pola pikir, kesenangan, dan lain-lain.

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama. Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak  selalu menguntungkan.

Coba bayangkan, seandainya semua orang memiliki kemampuan memimpin, lantas siapa yang mau dipimpin? Kalau semua orang menjadi orang tua, siapa yang mau jadi anak? Siapa juga yang akan menerima sedekah, jika semua orang ditakdirkan kaya?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dengan perbedaan. Namun, tentu saja semua itu harus bersyarat. Nah, syarat apa saja yang harus dipenuhi?
 
Cara pandang kita terhadap perbedaan.
Berpikirlah positif dengan mensyukuri adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Ada baiknya kita mencari persamaan terlebih dahulu, sebelum mencari perbedaan.
 
Kelola perbedaan sebaik mungkin. 
Musyawarah untuk mencapai kesepakatan adalah jalan yang tepat untuk mengelola perbedaan. Berlatihlah utk menghargai, menerima, menjalankan dan bertanggungjawab terhadap keputusan bersama, meski berlawanan dengan ide awal kita.
 
Selalu posisikan segala sesuatu pada tempatnya.
Saat bekerja sama dengan orang lain, salurkan potensi, karakter, minat yang berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'. Cara ini akan mendorong tercapainya tujuan bersama dan mendukung pengembangan potensi masing-masing individu.

Jangan pernah meremehkan orang lain.
Apapun dan bagaimana pun kondisi atau pendapat orang lain, perlakukan mereka selayaknya diri kita ingin diperlakukan. Anggaplah semua orang penting. Mereka memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Jangan menonjolkan diri atau sombong.
Merasa diri paling penting dan lebih baik daripada orang lain *tidak akan* menambah nilai lebih bagi kita. Toh kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Jadilah beton dalam bangunan. Meski tidak nampak, namun sesungguhnya ialah yang menjadi penyangga kokohnya sebuah bangunan. 

Cari sumber informasi yang terjamin kebenarannya. Perbedaan bisa muncul karena informasi yang salah. Oleh sebab itu, pastikan sumber informasi kita bisa terjamin dan dapat dipercaya kebenarannya. Lebih bagus lagi jika disertai bukti yang mendukung.

Koreksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Menyalahkan orang lain terus menerus tidak akan banyak membantu kita. Bisa jadi kesalahan sebenarnya terletak pada diri kita. Karenanya, koreksi diri sendiri terlebih dahulu merupakan langkah yang paling bijaksana.

So, berhentilah menyesalkan perbedaan.Karena jika tidak, kita akan kehilangan sumber kebahagiaan! 
 
Sukses selalu untuk kita semua!




Source : Anne Ahira

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda..!!


"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah." -- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang menganggap remeh pada masalah ini. Padahal, kecerdasan otak saja tidak cukup menghantarkan seseorang mencapai kesuksesan. Justru, pengendalian emosi yang baik menjadi faktor penting penentu kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran mental dari seseorang yang cerdas dalam menganalisa, merencanakan dan menyelesaikan masalah, mulai dari yang ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa memahami, mengenal, dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia. Orang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari tentang kebahagiaan, mencintai dan berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan bertanggung jawab dalam segala hal yang terjadi dalam hidupnya sebagai bukti tingginya kecerdasan emosi yang dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada pencapaian kesuksesan hidup yang *tidak tampak*
Kesuksesan bisa tercapai ketika seseorang bisa membuat kesepakatan dengan melibatkan emosi, perasaan dan interaksi dengan sesamanya. Terbukti, pencapaian kesuksesan secara  materi tidak menjamin kepuasan hati seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang juga dikenal dengan sebutan "EQ"), dikenalkan melalui pasar dunia.
Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menggunakan emosi secara tepat dalam setiap bentuk interaksi lebih dibutuhkan daripada kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana emosi bisa mengubah segala keterbatasan menjadi hal yang luar biasa....

Seorang milyuner kaya di Amerika Serikat, Donald Trump, adalah contoh apik dalam hal ini. Di tahun 1980 hingga 1990, Trump dikenal sebagai pengusaha real estate yang cukup sukses, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan sebesar satu milliar US dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak karirnya, yaitu "The Art of The Deal dan Surviving at the Top". Namun jalan yang dilalui Trump tidak selalu mulus...
Ingatkah depresi yang melanda dunia di akhir tahun 1990? Pada saat itu harga saham properti pun ikut anjlok dengan drastis. Hingga dalam waktu semalam, kehidupan Trump menjadi sangat berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada bisnis propertinya ini harus menanggung hutang sebesar 900 juta US Dollar! Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib serupa berpikir bahwa inilah akhir kehidupan mereka, hingga benar-benar mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump benar-benar diuji. Bagaimana tidak, ketika ia mengharap simpati dari mantan istrinya, ia justru diminta memberikan semua harta yang tersisa sebagai ganti rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman dekatnya pun pergi meninggalkannya begitu saja. Alasan yang sangat mendukung bagi Trump untuk putus asa dan menyerah pada hidup. Namun itu tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini kesempatan untuk bekerja dan mengubah keadaan. Meski secara finansial ia telah kehilangan segalanya, namun ada "intangible asset" yang tetap dimilikinya. Ya, Trump memiliki pengalaman dan pemahaman bisnis yang kuat, yang jauh lebih berharga dari semua hartanya yang pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump sudah berhasil membuat kesepakatan terbesar dalam sejarah bisnisnya. Tiga tahun berikutnya, Trump mampu mendapat keuntungan sebesar US$3 Milliar. Ia pun berhasil menulis kembali buku terbarunya yang diberi judul "The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita bagaimana kebangkrutan yang menimpanya justru menjadikannya lebih bijaksana, kuat dan fokus daripada sebelumnya. Bahkan ia berpikir, jika saja musibah itu tidak terjadi, maka ia tidak akan pernah tahu teman sejatinya dan tidak akan menjadikannya lebih kaya dari yang sebelumnya. Luar biasa bukan? 
Kecerdasan Emosi memberikan seseorang keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan padaseseorang untuk berani menghadapi ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir pada setiap org & bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara mengasah kecerdasan emosi:
Selalu hidup dengan keberanian.   
Latihan dan berani mencoba hal-hal baru akan memberikan beragam pengalaman dan membuka pikiran dengan berbagai kemungkinan lain dalam hidup.
Selalu bertanggung jawab dalam segala hal.
Ini akan menjadi jalan untuk bisa mendapatkan kepercayaan orang lain dan mengendalikan kita untuk tidak mudah menyerah. "being accountable is being dependable"
Berani keluar dari zona aman.
Mencoba keluar dari zona nyaman akan membuat kita bisa mengeksplorasi banyak hal.
Mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya.
Melakukan hal ini akan membangun rasa percaya diri dan dapat menjadi jaminan bahwa segala sesuatu pasti ada solusinya.

Bersikap rendah hati. 
Mau mengakui kesalahan dalam hidup justru dapat meningkatkan harga diri kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi kita my friend..!!

Karena mengendalikan emosi merupakan salah satu faktor penting yang bisa mengendalikan kita menuju sukses dan juga menikmati warna-warni kehidupan.




Source : Anne Ahira

Dimanakah Kebahagiaan Itu ??


"Tempat untuk berbahagia itu ada di sini. Waktu untuk berbahagia itu kini. Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia" -- Robert G. Ingersoll
 
Dear friend, apakah saat ini merasa bahagia?

Di mana letak kebahagiaan kita sesungguhnya? Apakah pada moleknya tubuh? ..Jelitanya rupa? Tumpukan
harta?.....atau barangkali punya mobil mewah & tingginya jabatan?
 
Jika itu semua sudah kita dapatkan, apakah kita bisa memastikan bahwa kita*akan* bahagia ?

Hari ini saya akan mengajak kita untuk melihat, kalau limpahan harta tidak selalu mengantarkan pada kebahagiaan

Dan ini kisah nyata...

Ada delapan orang miliuner yang memiliki nasib kurang menyenangkan di akhir hidupnya. Tahun 1923, para miliuner berkumpul di Hotel Edge Water Beach di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mereka adalah kumpulan orang-orang yang sangat sukses di zamannya.

Namun, tengoklah nasib tragis mereka 25 tahun sesudahnya! Saya akan menyebutnya satu persatu :

=> Charles Schwab, CEO Bethlehem Steel, perusahaan besi baja ternama waktu itu. Dia mengalami kebangkrutan total, hingga harus berhutang untuk membiayai 5 tahun hidupnya sebelum meninggal.

=> Richard Whitney, President New York Stock Exchange. Pria ini harus menghabiskan sisa hidupnya dipenjara Sing Sing.

=> Jesse Livermore (raja saham "The Great Bear" di Wall Street), Ivar Krueger (CEO perusahaan hak cipta), Leon Fraser (Chairman of Bank of International Settlement), ketiganyamemilih mati bunuh diri.

=> Howard Hupson, CEO perusahaan gas terbesar di Amerika Utara. Hupson sakit jiwa dan meninggal di rumah sakit jiwa.

=> Arthur Cutton, pemilik pabrik tepung terbesar di dunia, meninggal di negeri orang lain.

=> Albert Fall, anggota kabinet presiden Amerika Serikat, meninggal di rumahnya ketika baru saja keluar
dari penjara.

Kisah di atas merupakan bukti, bahwa kekayaan yang melimpah bukan jaminan akhir kehidupan yang bahagia! Kebahagiaan memang menjadi faktor yang begitu didambakan bagi semua orang.

Hampir segala tujuan muaranya ada pada kebahagiaan. Kebanyakan orang baru bisa merasakan *hidup* jika sudah menemukan kebahagiaan.
 
Pertanyaannya, di mana kita bisa mencari kebahagiaan?
Apakah di pusat pertokoan? Salon kecantikan yg mahal? Restoran mewah? Di Hawaii? di Paris? atau di mana? 
Sesungguhnya, kebahagiaan itu tdk perlu dicari kemana-mana... karena ia ada di hati setiap manusia.

Carilah kebahagiaan dalam hatimu! Telusuri 'rasa' itu dalam kalbumu! Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana...

Mulailah Berbagi! Ciptakan suasana bahagia dengan cara berbagi dengan orang lain. Dengan cara berbagi akan menjadikan hidup kita terasa lebih berarti.

Bebaskan hati dari rasa benci, bebaskan pikiran dari segala kekhawatiran. Menyimpan rasa benci, marah atau dengki hanya akan membuat hati merasa tidak nyaman dan tersiksa.

Murahlah dalam memaafkan! Jika ada orang yang menyakiti, jangan balik memaki-maki. Mendingan berteriak, "Hey! Kamu sudah saya maafkan!!". Dengan memiliki sikap demikian, hati kita akan menjadi lebih tenang, dan amarah kita bisa hilang. Tidak percaya? Coba saja....

Lakukan sesuatu yang bermakna. Hidup di dunia ini hanya sementara. Lebih baik kita gunakan setiap waktu dan kesempatan yang ada untuk melakukan hal-hal yang bermakna, untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Dengan cara seperti ini maka kebahagiaan kita akan bertambah dan terus bertambah.

Jangan terlalu banyak berharap pada orang lain, nanti kita akan kecewa! Ingat, kebahagiaan merupakan tanggung jawab masing-masing, bukan tanggungjawab teman, keluarga, kekasih, atau orang lain.
 
Lebih baik kita perbanyak harap hanya kepada Yang Maha Kasih dan Kaya.
Karena Dia-lah yang menciptakan kita, dan Dia-lah yang menciptakan segala'rasa', termasuk rasa bahagia yang selalu kita inginkan. 




Source : Anne Ahira

Jangan Menunggu..Berubahlah !!


Banyak orang yang suka mengeluh dalam hidupnya. Misalnya, dengan menyalahkan nasib buruk yang menimpanya. 
Tentu saja cara ini tidak akan pernah menjadikan kehidupannya menjadi lebih baik, bukan?

Ada pepatah bijak mengatakan :
"You can not chance the wind direction,but you can only chance your wing direction"

Kita tidak akan pernah bisa merubah  arah angin, yang dapat kita lakukan adalah mengubah arah sayap.

Dengan kata lain...
'Realita' kehidupan tidak akan berubah kecuali kita sendirilah yang mengubah 'sudut pandang' terhadap realita yang ada!

Fakta: "Tidak ada seorang pun yang memilih kita untuk sukses. Kita sendirilah yang menentukan pilihan tersebut!"

Kebanyakan orang akan tertarik sejenak ketika diingatkan akan hal di atas, tapi kemudian berlalu kembali.... Sementara waktu terus berjalan, dan akhirnya tidak pernah ada perubahan dalam hidupnya!

Sangat disayangkan.
Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu adanya perubahan tersebut.

Menunggu bantuan orang lain, menunggu bantuan teman untuk mendapatkan pekerjaan yang enak, sampai menunggu warisan.
Sekarang logikanya, jika memang hanya dengan menunggu perubahan itu akan datang, maka jumlah orang sukses seharusnya jauh lebih banyak.

Bukankah kenyatannya tidak demikian?
Lalu, jika ingin sukses, apa yang seharusnya kita lakukan?

Ciptakan perubahan!  Jangan selalu menunggu orang lain.

Do your best, whatever happens will be for the best!

Lakukan dan selesaikan semua tugas dan pekerjaan semaksimal mungkin, bukan hanya terus menunggu dan
berharap. Lakukan semuanya dengan tujuan untuk selalu mendapatkan hasil *terbaik* yang bisa kita capai!
 
Mulai buat jaringan seluas-luasnya.

Dengan banyak mengenal orang, maka pengetahuan kita akan semakin bertambah. Seseorang yang kelihatannya sederhana bisa jadi menyimpan kedalaman ilmu yang tidak kita duga!

Oleh sebab itu, alangkah bijaknya jika kita menjadikan 'setiap orang adalah guru' dan kehidupan ini adalah universitasnya.
 
Berusahalah selalu untuk bersikap proaktif.

Sikap ini sangat diperlukan jika ingin mendapatkan kesempatan yang lebih luas dan cepat dalam berbagai macam hal!
 
Bersikaplah Fleksibel.
Cobalah untuk memahami suatu hal dari berbagai sudut pandang. Jangan terpaku pada satu cara, yang bisa jadi tidak lagi relevan kita gunakan. Dengan bersikap fleksibel, wawasan kita akan semakin bertambah.

Satu hal penting yang harus selalu diingat: Kita-lah yang memutuskan untuk berubah. Kita-lah yang menentukan menjadi sukses, bukan orang lain!

Jika pilihan sukses tidak pernah kita ambil, maka orang lain akan mengambil pilihan tersebut. Dan, kita akhirnya hanya akan menyaksikan kesuksesan mereka, tanpa pernah merasakannya...

Bukankah kita tidak berharap demikian? Jika memang tidak, tentukan perubahan...
 
MULAI HARI INI. Jangan terus menunggu!




Source : Anne Ahira